Kamis, 12 November 2009

laporan termoregulasi

TERMOREGULASI
Tujuan :
1. Mempelajari perubahan aktivitas jantung Daphnia sp. Dalam berbagai temperatur lingkungan
2. Menentukan koefisien (Q10)

1. PENDAHULUAN
Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia. (http://firebiology07.wordpress.com/2009/04/21/termoregulasi-pengaturan-suhu-tubuh/)
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi (Swenson, 1997). Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Dan hewan homoiterm sering disebut hewan berdarah panas (Duke’s, 1985).
Pada hewan homoiterm suhunya lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan yang berbeda akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air (Swenson, 1997).
Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung dan mamalia, hewan yang berdarah dingin adalah hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya (Guyton, 1987).
Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan lansung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi (http://feylana.wordpress.com/2008/06/21/termoregulasi/)
Termoregulasi
(Sistem Pengaturan Panas)Berdasarkan kemampuannya untuk mempertahankan suhu tubuh, hewan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : 1. Poikiloterm, 2. Homeoterm.
Keterangan:
Hewan Poikiloterm
Yaitu hewan yang suhu tubuhnya selalu berubah seiring dengan berubahnya suhu lingkungan.


Hewan Homeoterm
Yaitu hewan yang suhu tubuhnya selalu konstan/tidak berubah sekalipun suhu lingkungannya sangat berubah.(http://sakura.890m.com/TUGAS_02/index5-1.html)
Jenis-jenis dan macam-macam adaftasi
1. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, dan sebagainya yang runcing dan tajam untuk makan daging. Sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba dan lain sebagainya tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan mengunyah makanan.
2. Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada binatang / hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.
3. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya seperti pada binatang bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri.
Termoregulasi pada Manusia
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya
Mekanisme pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ tubuh yang saling berhubungan. didalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua jenis sensor pengatur suhu, yautu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat pada jaringan sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh.Dari kedua jenis sensor ini, isyarat yang diterima langsung dikirimkan ke sistem saraf pusat dan kemudian dikirim ke syaraf motorik yang mengatur pengeluaran panas dan produksi panas untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru dan seluruh tubuh. Setelah itu terjadi umpan balik, dimana isyarat, diterima kembali oleh sensor panas dan sensor dingin melalui peredaran darah.
Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. dan modifikasi sistim sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi kehilangan panas tubuh. Mausia menggunakan baju merupakan salah satu perilaku unik dalam termoregulasi
(http://firebiology07.wordpress.com/2009/04/21/termoregulasi-pengaturan-suhu-tubuh/)

2. ALAT DAN BAHAN
No Alat No Bahan
1 Mikroskop 1 Es batu
2 Thermometer 2 Kultur Daphnia Sp
3 Counter 3 Aquades
4 Pipet
5 Bunsen
6 Tabung reaksi
7 Beker gelas
8 Objek gelas

3. CARA KERJA
Siapkan kultur daphnia Sp

Pindahkan daphnia Sp dengan pipet pada kaca

Amati di mikroskop pembesaran 25X100

Atur daphnia agar jantungnya tampak jelas

Hitung jumlah denyut jantung dalam interval 15 detik sebanyak 3 X

4. HASIL FOTO PENGAMATAN

































1) Daphnia Sp yang telah dimasukkan ke dalam tabung reaksi dalam satu tabung reaksi satu, lalu dibagikan ke tiap-tiap kelompok.
2) Gelas ukur dipanaskan oleh Bunsen untuk mencapai suhu yang diinginkan
3) Penyesuaian Daphnia Sp pada suhu tadi.
4) Sesudah disesuaikan, disimpan Daphnia Sp pada objek gelas.
5) Pengamatan Daphnia Sp dibawah mikroskap dengan ukuran 25 X 100
6) Seekor Daphnia Sp yang tadi di bawah mikroskop dihitung denyut jantungnya.

Tabel Hasil Pengamatan

Suhu (C) Jumlah denyut jantung
(per 15 detik) Rata-rata denyut jantung (per menit) Q10
5 T1 = 7 17:3 = 5,6 x 4 = 22,6 161,3/22,6¬¬ 10/15-5
7,1
T2 = 6
T3 = 4
15 T1 = 61 121:3 = 40,3 x 4 = 161,3
224/161,310/25-15
1,38
T2 = 29
T3 = 31
25 T1 = 47 168:3 = 56 x 4 = 224 33,3/22410/35-25
0,14
T2 = 70
T3 = 68
35 T1 = 8 25:3 = 8,3 x 4 = 33,3 57,3/33,310/45-35
1,7
T2 = 8
T3 = 9
45 T1 = 11 43:3 = 14,3 x 4 = 57,3 74,6/57,310/15-5
1,3
T2 = 19
T3 = 13
55 T1 = 41 56:3 = 18,6 x 4 = 74,6
T2 = 15
T3 = mati










5. PEMBAHASAN
Dalam praktikum termoregulasi ini kita akan mengetahui denyut jantung hewan Daphnia sp yang akan di sesuaikan dengan beberapa suhu. Daphnia sp termasuk dalam golongan udang-udangan, namun dalam proses perkembangan belum lebih jauh. Lapisan luar mengalami inolting atau edisis sebanyak 17 kali. Mulut Daphnia sp terdiri dari satu labium, satu pasang mandibula (Radiopoetro,1997).
Menurut Watermen (1960) hewan kecil memeliki frekuensi denyut jantung lebih cepat dari pada hewan dewasa, baik itu pada suhu/temperatur panas, sedang, dingin maupun alkoholik. Hal ini di sebabkan adanya kecepatan metabolic yang di miliki hewan tersebut. Melanisme kerja jantung Daphnia sp berbanding langsung dengan kebutuhan oksigen perunit berat badannya, Daphnia sp sangat di pengaruhi oleh kondisi lingkungan yang mana organisme ini perkembangan larva menjadi dewasa hanya dalam waktu 4 hari.
Faktor-faktor yang mempengarihu kerja denyut jantung Daphnia sp : Aktivitas, Ukuran dan umur, Cahaya, Temperature, Obat-obatan, Faktor biologis.
(http://www.muslikhin.blogspot.com/2008/03/kerjajantungDaphnia sp.html)
Hukum Van’t Hoff menyatakan “Bahwa setiap peningkatan suhu sebesar 10oC akan meningkatkan laju konsumsi oksigen atau dalam hal ini adalah denyut jantung sebesar 2 sampai 3 kali kenaikan”.
Denyut jantung Daphnia sp dalam keadaan normal sebanyak 120 denyut per menit. Pada keadaan tertentu kecepatan rata-rata denyut jantung Daphnia sp dapat berubah-ubah di sebabkan oleh beberapa faktor, misalanya :
 Denyut jantung lebih cepat pada wakt sore hari
 Densitas populasi rendah
 Betina mengerami telur
 Sedang stress
 Kondisi kurang optimal
(http://www.muslikhin.blogspot.com/2008/03/kerjajantungDaphnia sp.html)






DAFTAR PUSTAKA
Duke, NH. 1995. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Publishing: New York.
Guyton, D.C. 1993. Fisiologi Hewan, edisi 2. EGC. Jakarta.
Swenson, GM. 1997. Dules Physiology or Domestic Animals. Publishing Co. Inc : USA.
(http://firebiology07.wordpress.com/2009/04/21/termoregulasi-pengaturan-suhu-tubuh/)
(http://feylana.wordpress.com/2008/06/21/termoregulasi/)
(http://sakura.890m.com/TUGAS_02/index5-1.html)
(http://www.muslikhin.blogspot.com/2008/03/kerjajantungDaphnia sp.html)
(http://www.muslikhin.blogspot.com/2008/03/kerjajantungDaphnia sp.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar